Self Service Pom Bensin di Jogja, Akankah Bertahan?

Pekan lalu saya mengisi premium di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) atau lebih dikenal dengan Pom bensin milik Pertamina di Jalan Argo Lubang, Lempuyangan Yogyakarta. Kala itu saya akan mengisi bensin di Pom bensin Semaki, tapi karena Jalan Kusumanegara ditutup, maka terpaksalah mengisi bensin di sini.
Seperti biasa, antrian panjang motor ada di pengisian premium. Setelah motor saya mulai mendekati Pom, ada sesuatu yang baru yaitu self service pengisian Premium dan Pertalite.
Petugas Pom hanya menerima pembayaran pemotor, sebelum sampai di mesin Pom. Selanjutnya pemotor harus menuangkan sendiri ke dalam tangki bensin motor masing-masing.
Petunjuk penggunaan nozzle sudah tertulis di banner, sehingga memudahkan pemotor yang baru pertama kali self service. Ada juga pemotor yang kesulitan menuangkan bensin ke tangki motornya sendiri, terutama ibu-ibu 🙂 .
Tidak semua pemotor self service bensin, ada juga yang masih dibantu petugas Pom seperti pemotor yang membawa box farmasi seperti di gambar. Dia agak kerepotan karena motornya agak susah di-kickstand.

Akankah bertahan?

Bila kita melihat film-film barat, pemilik mobil dan motor menuangkan sendiri bensin ke tangki setelah membayar ke pemilik Pom bensin. Di Indonesia, ini adalah hal baru sehingga perlu sosialisasi dan ujicoba.
Di Pom bensin ini, self service hanya untuk motor berbahan bakar Premium dan Pertalite, sedangkan motor yang akan mengisi Pertamax dan pemilik mobil, pengisian bensin masih dilakukan oleh petugas.
Saya sempat bertanya kepada humas Pom bensin Semaki, apakah Pom bensin mereka akan menerapkan hal sama? Ternyata tidak, alasannya karena lahan Pom bensin sempit Bila self service diterapkan, dikhawatirkan antrian pengisian bensin akan semakin panjang hingga jalan raya.
Apakah self service Pom bensin ini akan tetap berlanjut? Menurut saya, Pom bensin Lempuyangan akan tetap melanjutkan self service. Keuntungan dari penerapan self service adalah berkurangnya petugas yang mengawal Pom bensin. Dari sisi konsumen malah mengalami kerugian, karena harus bisa memperkirakan daya tampung tangki. Bila salah takaran, bisa-bisa bensin yang dituangkan tumpah. Rugi deh…

Tinggalkan komentar