Di Tengah Kegalauan Festival TIK 2016, Kutemukan Kesejukan

Menjadi satu keberkahan Jogja terpilih menjadi tempat diselenggarakannya Festival TIK 2016 bertema Candori (Can Do Republik Indonesia), karena saya bisa menghadiri perhelatan besar Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) di kota sendiri. Seluruh kegiatan Festival TIK dilaksanakan di Grhatama Pustaka BPAD DIY, atau lebih dikenal dengan “Perpustakaan sebelah JEC”, 17 – 18 September 2016.

Jauh-jauh hari saya sudah mengetahui acara ini dari Evenbrite. Website ini memang menjadi tempat “kepo” agenda acara di Jogja, banyak perusahaan dan komunitas memanfaatkan Evenbrite untuk menginformasikan acara gathering. saya malah tidak melihat akun Twitter RelawanTIK melakukan sosialisasi kegiatan Festival TIK 2016, agak mengherankan sebenarnya.

Mendaftar acara Festival TIK 2016
Firasat saya berkata acara akan menarik, langsung saja mendaftarkan diri di Evenbrite. Malam harinya saya terkejut mendapat email notifikasi acara Festival TIK dibatalkan, saya pikir panitia salah mempublikasikan acara sehingga dihapus.

Tau ah gelap..

Beberapa hari kemudian acara Festival TIK 2016 muncul kembali di Evenbrite dengan format berbeda, kali ini form pendaftaran lebih spesifik khusus hanya untuk Relawan TIK dengan memasukkan nomor anggota. Kalau sudah begini saya tidak bisa mendaftarkan diri, karena saya bukan tercatat sebagai RTIK meskipun pernah tercatat sebagai relawan di website lama.

Dari Evenbrite tersebut saya tahu website resmi Festival TIK 2016 di http://festival-tik.web.id. Di website ini terdapat susunan acara Festival TIK 2016 yang membingungkan. Kenapa membingungkan? Karena susunan acara tidak ditulis dalam sebuah tabel, sehingga menyulitkan pembaca mengetahui workshop atau seminar apa yang akan diikuti. Penyelenggaraan workshop dan seminar dilakukan paralel, sehingga calon peserta harus memilih yang akan diikuti.

Daripada pusing, saya mendaftar 90% acara Festival TIK 2016, yang penting daftar dulu sebelum kehabisan tiket.

Pembukaan Festival TIK 2016
Pukul 07.10 WIB buka Twitter, saya lagi-lagi terkejut melihat linimasa sayan resmi @Festik2016. Susunan acara berubah! Mute account spam, mendingan saya cari tabel susunan acara dan alhamdulillah ketemu. Akun Twitter @Festik2016 juga mengabarkan para peserta akan diberi kartu pengenal yang di balik co-card tersebut terdapat susunan acara.

Sampai di Grhatama Pustaka BPAD mendaftarkan lagi. Untuk kesekian kalinya saya terkejut karena pendaftaran di Evenbrite tidak berlaku, jadi harus menulis nama kembali. Oleh panitia saya diarahkan untuk mendaftar di bagian pelajar/mahasiswa, otomatis tidak mendapatkan goodie bag. Padahal teman-teman lain para blogger mendapatkan goodie bag. Apakah panitia tidak mengakomodir blogger, padahal di sela festival diadakan lomba blog?

Pendaftaran (Foto milik Babeh Helmi)

Nggak masalah tidak mendapatkan goodie bag, cuma kecewa jika sesuatu yang dibuat limited tidak bisa kudapatkan 🙂 .

Saya tidak melihat papan pengumuman atau arahan dari panitia untuk kemana? Paperless sih paperless tapi papan pengumaman dan selebaran informasi tetap berguna. Bila 100% paperless bisa menggunakan layar monitor LED sebagai pengganti papan informasi.

2. Panitia sebisa mungkin menerapkan TIK go Green dengan kata lain paper less. Yaitu penggunaan kertas dibatasi.

— sukseskan #DesTIK4 (@FesTIK2016) September 15, 2016

Bingung dengan keadaan ini saya bertemu orang yang membawa kartu pengenal, kemudian diarahkan  untuk memindai kodebar untuk mengunduh susunan acara dan denah ruangan. Sepertinya saya orang yang mudah bingung dan galau. Kenapa Ruang C ada di sebelah ruang A? Ruang B, C, D, dan E berurutan di lantai atas. Keterangan denah ruangan yang kuunduh juga tidak tertulis urut. Ruang C ini baru kuketahui setelah teman dari protokoler Gubernur DIY mengajak saya masuk untuk memotret, tapi sama saja tidak bisa duduk. Akhirnya saya keluar duduk-duduk bersama teman blogger lain.

Saat duduk-duduk ini kami “diprospek” oleh sales T-Cash yang bekerja sama dengan BTPN. Kami membuat akun T-Cash gratis meskipun saya tidak berminat mengisi saldo 🙂 . Setelah “diprospek” saya pergi ke pameran yang ada di lobby depan, lebih tepatnya gelar produk sponsor acara. Sempat kubaca berita online media lokal bahwa kartu Jogja Pass diluncurkan pada Pembukaan Festival TIK dan sudah digunakan oleh 3000 pengguna. Tapi ketika saya bertanya kepada penjaga pameran, kartu tersebut belum dijual. Mana yang benar? Ketika keseluruhan acara selesai saya baru tahu bahwa kartu Jogja pass ini dibagikan pada seminar / workshop yang tidak saya ikuti. #kzl

Setelah menunggu tanpa kejelasan; snack sudah habis dari pertama kali saya hadir, akhirnya acara pembukaan Festival TIK 2016 selesai. Kami tetap bingung karena waktu sudah molor banyak dari susunan acara, akhirnya kami ikut seminar PANDI, meskipun saya sebenarnya ikut workshop Internet Cerdas, Kreatif, dan Produktif. Tapi nggak apa-apalah daripada tidak dapat materi apa-apa. Kupikir usai ibadah Jum’at semua akan berjalan normal.

Kesejukan usai Siang yang Emosional
Kegalauan acara Festival TIK 2016 menguras tenaga dan emosiku, bukan emosi yang meluap tapi lebih ke kzl, kecewa, bingung, heran, dan bertanya-tanya, panitianya Kominfo, Relawan TIK pusat, atau Relawan TIK DIY?

Workshop Kerawanan Cyber Security.

Tapi usai ibadah Jum’at hati dan pikiran tenang, apalagi berada di Ruang A yang berpendingin ruangan. Siang itu saya ikut Workshop Kerawanan Cyber Security dengan pembicara….. tidak tahu wkawkwk. Yes, tidak tahu karena saking banyaknya pembicara; 3 dari Kominfo, Polda DIY, dan pelaku keamanan siber. Acara yang menarik menjadi agak menjemukan karena panjangnya durasi, dari 13.45 – 16.35 WIB. Intinya, belajar membobol sebuah situs bisa dipelajari sendiri karena tutorialnya banyak tersedia di internet 🙂 .

Karena masih ada waktu, saya bersama seorang teman blogger masuk ke Ruang D dengan tema UU Perlindungan Data Pribadi. Narasumber sudah saya tahu sebelumnya yaitu Mariam Barata; pernah mengisi acara di Jagongan Media Rakyat 2014. Dan Ismail Cawidu, terakhir kali bertemu beliau saat peluncuran buku Cakap Bermedia Sosial Mei 2016.

Seminar UU Perlindungan Data Pribadi.

Saat kami masuk, Pak Ismail menjelaskan kembali pembahasan pada sore hari tersebut, beliau meminta masukan sebagai pembahasan data apa saja yang dianggap rahasia dan tidak boleh sembarang orang bisa mengakses. Suasana seminar demikian cair karena narasumber membuka dialog dengan para peserta seminar. Acara ini menjadi seminar terakhir yang selesai hari pertama Festival TIK 2016 karena berakhir jam 17.30 WIB :).

Hal menyenangkan pada Festival TIK 2016 ini adalah pada hari pertama, internet yang disediakan panitia cukup kencang. Padahal biasanya internet Grhatama Pustaka sehari-hari bak siput berjalan, bahkan kecepatannya kalah dengan Perpustakaan Kota Jogja.

Yang kedua adalah ruangan berpendingin di tengah panasnya Jogja. Grhatama Pustaka memang dikenal sebagai tempat membaca dan tiduran anak-anak sekolah.

Kesemrawutan pembukaan di hari pertama sebuah acara merupakan hal yang lumrah, apalagi jika dipegang sepenuhnya oleh komunitas, bukan profesional. Tinggal bagaimana meminimalisir kesemrawutan. Kupikir acara terlalu banyak dan padat, akhirnya sebagian acara dihapus karena ruangan masih dipakai acara sebelumnya. Parahnya lagi ada yang dibatalkan karena tidak ada peserta.

Pemilihan Grhatama Pustaka sebagai tempat dilaksanakannya Festival TIK 2016 sudah tepat, meskipun toiletnya jorok. Penyelenggaraan Festival TIK 2016 banyak kekurangan, tapi masih memiliki kelebihan; bisa makan siang dan snack gratis, apalagi pada sore harinya ada seminar yang lebih keren di gedung sebelahnya; JEC.

Tinggalkan komentar