Menciptakan Generasi Tangguh

Rabu lalu, 3 Oktober 2018 saya menghadiri kuliah umum seorang dosen ekonomi syariah lulusan doktoral luar negeri. Agak telat datang karena ruas jalan yang seharusnya dilalui ternyata ditutup. Seperti prediksi sebelumnya, pesertanya membludak melebihi kapasitas ruangan. Dari pengakuan beberapa peserta, mereka rela jauh-jauh menempuh lebih dari 200 km untuk menimba ilmu dari beliau. Kesempatan ini juga saya gunakan sebaik-baiknya, mengingat beliau sangat jarang mengisi di Yogyakarta. Alhamdulillah masih mendapatkan tempat meskipun tidak satu ruangan dengan pemateri.

Seorang penanya bercerita, dia pernah mengajar di salah satu daerah yang berbatasan dengan negara yang sekarang melepaskan diri dari indonesia. Di sana ada kebiasaan ketika murid melakukan kesalahan, mereka akan “dihajar” dengan pukulan, tendangan, dan serupa dengan itu; intinya dihukum secara fisik. Doktor menjawab, hal itu tidak diperbolehkan karena melukai fisik dan mental. Anak akan mencoba lolos dari hukuman meskipun dengan berbohong, bagaimana caranya berpikir agar dia lolos dari hukuman fisik. Akibatnya, mereka hingga dewasa terbiasa berbohong dan menganggapnya tidak masalah.

Anak menjawab jujur bahwa dia bersalah malah dihukum, sedangkan ketika dia berbohong dia lolos dari hukuman. Dia lolos hukuman di dunia, belum tentu lolos hukuman akhirat. Siapa yang salah? Kesalahan ini terus berulang hingga menciptakan generasi yang suka berbohong.

Mengajar.

Ada pertanyaan yang hampir sama, ketika seorang guru atau pengajar membentuk sebuah grup belajar. Ketika ada satu soal salah dijawab, si penjawab diberi hukuman dengan coretan atau bedak di wajahnya. Meskipun hanya hukuman lucu-lucuan, hal ini juga tidak diperbolehkan karena merendahkan martabat dan membuat malu penjawab yang salah. Jika dia banyak menjawab salah dalam tiap diskusi, mungkin dia tidak akan semangat lagi belajar, mending keluar dari diskusi karena salah terus. Siapa yang salah dalam hal ini? Pencetus ide tersebut, hal seperti ini tidak boleh dilakukan lagi.

“Terima kasih” kepada pengajar

Ada dua kisah berbeda tapi senada, tentang sogokan kepada pengajar. Bentuknya seperti yang disampaikan dua penanya. Seorang mahasiswi telah lulus pendadaran dan yudisium, tinggal menunggu wisuda. Sebagai ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing, dia memberikan hadiah. Bolehkah perbuatan tersebut?

Doktor pun bercerita, ada mahasiswanya baru kembali dari kampung halaman. Si mahasiswa membawa oleh-oleh keripik kepada Doktor. Bolehkah perbuatan tersebut?

Kedua kisah tersebut sama seperti orang tua siswa memberikan bingkisan kepada wali kelas, beberapa hari sebelum penyerahan raport. Bolehkah hal tersebut?

Ketiganya haram dilakukan karena maauk kategori suap, sogokan, yang bisa mempengaruhi penilaian pihak yang diberi.

Kisah pertama, “ucapan terima kasih” boleh dilakukan setelah mahasiswi tidak memiliki hak dan kewajiban dari kampus, dengan kata lain tidak menjadi mahasiswa lagi dan mengantongi kartu alumni.

Kisah kedua, Doktor menolak pemberian tersebut dan berkata kepada mahasiswanya, “Kamu mau saya terima keripik ini, tapi nilai kamu saya turunkan? Atau kamu bawa pulang keripik ini, dan nilaimu tidak berubah?”

Kisah ketiga, boleh dilakukan setelah siswa lulus dari sekolah.

Penutup

Sebagai penuntut ilmu maupun pengajar harus hati-hati ketika melangkah. Jangan sampai perbuatan kita malah membuat satu generasi hancur karena budaya berbohong dan suap.

Pendidik seyogyanya memberi apresiasi kepada siswa, ketika dia jujur mengakui kesalahannya. Diiringi dengan memberi semangat dan motivasi agar terus giat belajar. Tidak boleh ada perisakan meskipun itu hanya untuk lelucon, karena bisa menghancurkan mental belajar.

Tinggalkan komentar