Menyemarakkan Temu Inklusi 3 bersama Program Peduli

Desa Plembutan Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul DI Yogyakarta didapuk menjadi tuan rumah Temu Inklusi #3. Wakil Gubernur DI Yogyakarta KGPAA Paku Alam X berkenan memberikan sambutan di hari kedua pelaksanaan, pada acara yang berlangsung 22-25 Oktober 2018. Temu Inklusi merupakan ruang berbagi inovasi-inovasi terbaru gerakan sosial difabel di Indonesia (solider.id, 2018).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, salah satu tafsiran inklusi adalah ketercakupan, kegiatan mengajar siswa dengan kebutuhan khusus pada kelas reguler. Kata ini merupakan serapan dari bahasa Inggris inclusion yang bisa diartikan mengeluarkan atau memisahkan. Pengertian ini digunakan sebagai pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan semakin terbuka. Mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya. (Kartunet, 2012)

Denah Temu Inklusi 3.

Acara 2 tahunan yang diinisiasi oleh SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia) ini, menjadi tempat berkumpulnya para pegiat inklusi dari individu, organisasi difabel, organisasi masyarakat sipil, sektor privat, media, maupun pemerintah.

Terpilihnya Desa Plembutan sebagai tempat diadakannya Temu Inklusi tak lepas dari ramahnya desa tersebut terhadap penyandang disabilitas, dengan melibatkan mereka dalam proses pengambilan kebijakan pembangunan. Kabupaten Gunungkidul sendiri memiliki 3 desa inklusi, serta memiliki Perda perlindungan dan pemenuhan hak bagi kaum penyandang disabilitas.

Temu Inklusi 2018 bertema “Menuju Indonesia Inklusif 2030 Melalui Inovasi Kolaboratif” ini memiliki agenda:

  • Seminar Nasional
  • Sharing dan Appreciative Inquiry
  • Refleksi Temu Inklusi
  • Pameran dan Bazar
  • LokakaryaTematik
  • Penyusunan dan Pembacaan Rekomendasi
  • Malam Seni dan Budaya
  • Permainan Inklusi
  • Senam Inklusi dan Pembagian Doorprize
  • Wisata Desa

Bersama Program Peduli, para blogger ikut menyemarakkan kegiatan ini pada 24 Oktober 2018. Kami dipecah menjadi 3 kelompok mengkuti lokakarya tematik, Kelompok 1 di lapangan utama mengikuti lokakarya bertema Tata Kelola Desa Inklusif, Kelompok 2 di Balai Padukuhan Papringan Desa Plembutan lokakarya bertema Media dan Difabilitas, serta Kelompok 3 dengan tema Agama, Budaya, dan Difabel. Saya kebagian di Padukuhan Papringan, 500 meter selatan Balai Desa Plembutan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Amin (@kanvaskalbu) on

Dua narasumber adalah dan Kertaning Tyas atau lebih keren dipanggil Ken Kerta dari Lingkar Sosial Malang dan Tommy Apriando mewakili AJI Yogyakarta. Mati listrik tidak menyurutkan peserta mengikuti acara, meskipun acara molor dari jadwal, tapi tetap datang dengan menumpang angkutan desa panitia.

Mas Ken menuturkan pengalamannya membangun media untuk menyuarakan keprihatinan di Sumatra Selatan. Meskipun menggunakan blog gratis WordPress, ternyata cukup efektif mengungkapkan beratnya akses menuju Puskesmas terdekat. Warga di satu wilayah di Sumatra Selatan waktu itu harus berjuang 30 km menggunakan sampan untuk memperoleh akses kesehatan.

Tulisan di blog tersebut kemudian viral setelah dibagikan lewat media sosial. Yang kemudian memantik gerakan mahasiswa dan media mainstream melakukan pemberitaan, mendesak pemerintah untuk lebih memperhatikan sarana dan prasarana warga terpencil.

Di Malang Jawa Timur, Mas Ken mencoba membuat media komunitas yang bertujuan meluruskan pemahaman yang benar tentang difabel. Media komunitas perlu dibuat dengan tujuan mendorong gerakan akar rumput menyuarakan hati kepada pemangku kepentingan agar peraturan dan prasarana umum lebih ramah dengan pelaku disabilitas.

Lokakarya Media dan Difabilitas.

Mas Tommy sebagai narasumber kedua, lebih menitik beratkan pemberian motivasi menulis bertema disabilitas. Semua orang bisa berperan dalam mengangkat isu ini. Yang pertama dilakukan penulis yaitu terlebih dulu memahami disabilitas, bisa dengan melakukan wawancara, bergaul dengan pegiat atau pelaku disabilitas. Kemudian melakukan riset kecil-kecilan. Riset akan membuat tulisan lebih berbobot karena didukung dengan data. Riset paling mudah dan minimalis adalah dengan mengumpulkan data dari internet. Sebenarnya mau riset atau tidak, tergantung pada tulisan apa yang akan dibuat. Rumus piramida terbalik tetap harus diterapkan untuk mendapatkan produk jurnalistik yang menarik dan sesuai sasaran.

Lokakarya ditutup dengan pembagian peserta menjadi 2 kelompok. Masing-masing merumuskan masalah yang sering dialami pelaku dan pegiat disabilitas dalam mengelola media, kemudian mencoba mengungkapkan gagasan cara menyelesaikan permasalahan. Terakhir, membuat rekomendasi kepada pelaku, pegiat, dan pemangku kepentingan ketika mengangkat isu disabilitas melalui media. Semua ditulis dalam selembar karton, sebagai laporan panitia bahwa kegiatan lokakarya telah dilaksanakan.

Menulis hasil diskusi.

Program Peduli
Program peduli adalah satu prakarsa Pemerintah Indonesia yang dirancang untuk meningkatkan inklusi sosial bagi 6 kelompok yang paling terpinggirkan di Indonesia, yang kurang mendapat layanan pemerintah dan program perlindungan sosial. (programpeduli.org, 2018). Ajakan kepada masyarakat untuk bertindak inklusif dalam kehidupan sehari-hari dilakukan dengan kempen bertagar #IDInklusif, untuk merangkul WNI yang mengalami stigma dan marjinalisasi.

Sebelum balik ke kota Jogja kami mendapat suguhan kopi dari #Baristainklusif tim @staracoffee, dampingan salah satu mitra peduli yaitu Yakkum (Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum) Yogyakarta. Masing-masing bisa memilih es kopi susu atau kopi susu panas. Kopi sengaja digiling di tempat, menarik perhatian pengunjung untuk mengetahui sekelumit penyajian kopi.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Amin (@kanvaskalbu) on

Tinggalkan komentar