Tagar Opsional adalah Wajib

Berkecimpung dalam bidang jasa harus memiliki kesabaran dan tahan banting. Bertemu dengan berjuta orang dengan karakter mereka masing-masing menjadi satu kebanggaan, kesenangan maupun cobaan. Saya mencoba belajar bagaimana menghadapi keunikan dan keanekaragaman manusia. Ada kalanya saya terbawa suasana panas, tapi harus dihadapi dengan dingin. Salah dalam bersikap, kepercayaan akan runtuh seketika hingga bertahun lamanya.

Ada kisah yang menurut saya menarik untuk ditulis berkaitan dengan publikasi di era internet. Satu ketika ada klien yang mengharapkan publikasi di media sosial publisher sebanyak minimal 20 kali dalam rentang waktu tertentu. Dua pekan setelah kewajiban ditunaikan, klien baru mengecek laporan. Padahal laporan sudah disampaikan sehari setelah materi dipublikasikan. X merupakan perwakilan klien yang menghubungi kami (saya dan rekan-rekan) dan memberi kami bahan publikasi. Untuk laporan dan hak yang seharusnya kami dapat, X mendelegasikan kepada Y; dimana Y tidak pernah mengikuti perkembangan hubungan kami dengan X.

Wajibnya semua tagar, tak seperti ketentuan.

Y inilah yang memeriksa laporan kami dua pekan setelah kewajiban, dan dia menghitung satu persatu 😉 . Ketika dia menyampaikan kepada saya bahwa jumlah publikasinya kurang, saya kaget. Perasaan saya sudah mengerjakan sesuai permintaan, malah jumlahnya lebih.  Saya diminta untuk menghitung kembali, berapa konten yang telah saya publikasikan. Dalam hati saya ndongkol, kok bisa-bisanya dianggap kurang. Pikiran mulai mengarah pada Y, mungkin dia tidak bisa membaca laporan saya. Publikasi yang sudah tertumpuk saya cari kembali dan screenshoot, lalu saya tulis nomor di tiap publikasi. Pas!!! jumlahnya 20.

Saya kembali melaporkan kepada Y dalam bentuk file PDF. Y minta laporan dalam format lain 😯 . Beberapa jam kemudian, saya berikan laporan sesuai permintaan Y. Esok hari, Y mempermasalahkan lagi karena jumlah publikasi antara file PDF dan laporan terakhir berbeda. Memang ada perbedaan karena pada laporan terakhir, hanya tagar wajib yang saya sertakan sehingga jumlah publikasi lebih dari 20.

Y minta agar laporan terakhir diubah lagi, hanya publikasi bertagar wajib dan opsional yang dicantumkan. Dalam hati saya 👿 tapi harus dihadapi dengan kepala dingin. Saya katakan kepadanya, jika memang jumlah materi yang saya sampaikan kurang, saya rela tidak dibayar, saya ikhlashkan pekerjaan itu untuk mereka.

Perkiraan saya, Y tidak tahu apa yang disampaikan X kepada kami sehingga dia ngotot semua publikasi harus menggunakan semua tagar. Padahal X minta publikasi menggunakan tagar wajib #AAA, tagar #BBB hanya opsional. Dan menurut persepsi kami (saya dan rekan-rekan), tagar opsional tidak wajib dicantumkan dalam setiap publikasi.

Pelajaran yang dapat dipetik
Semua yang terlibat dalam sebuah proyek harus menyamakan persepsi. Jika perlu, buat definisi tagar wajib dan tagar opsional, agar salah satu pihak tidak salah persepsi dan gagal paham. Bagi publisher, jika tidak ada keterangan dari klien, sebaiknya tagar opsional juga dimasukkan dalam publikasi supaya tidak terjadi masalah di kemudian hari (baca: klien lepas tanggung jawab). Jadi sama saja artinya tagar opsional itu wajib dicantumkan, tidak ada kata opsional bagi publisher.

Tinggalkan komentar