Cuci Gudang Toko, Akhir Tahun Obral Diskon

Setiap akhir tahun menjadi hari-hari sibuk mayoritas manusia, dimulai dari sibuk membuat laporan tahunan, ujian akhir semester, liburan, sampai belanja. Saya termasuk orang yang sibuk belanja πŸ™‚ , yayaya sejak dimulainya harbolnas hingga 31 Desember, toko daring dan luring berlomba-lomba menghabiskan stok tahunan, itulah mengapa saya memanfaatkan kesempatan yang hanya datang sekali (dua kali) dalam setahun.

Sebagai laki-laki yang tidak suka belanja, saya tetap memaksakan diri untuk belanja di akhir tahun. Alhamdulillah dua tahun ini mendapatkan voucher belanja, meskipun tidak ada tanggal kedaluwarsa tapi saya tetap membelanjakannya di akhir tahun. Yang agak mengecewakan adalah voucher belanja hanya dapat digunakan di toko sepatu πŸ™Β  . Padahal sepatu bukan menjadi kebutuhan utama, rata-rata usia sepatu saya 2 tahun, hukumnya tidak wajib tiap tahun beli sepatu :mrgreen: . Namun bila voucher digunakan tahun-tahun mendatang, harga-harga mulai meningkat sedangkan nominal voucher tidak bertambah.

Sandal jenama Amerika buatan Cina.

Tahun ini saya beli sepatu sandal di atas, dilematis mau beli sepatu atau sandal. Sepatu saya tahun lalu solnya sudah mengkap-mengkap, 2 bulan sekali harus diolesi lem πŸ˜€ , asalkan tidak dipakai untuk kegiatan ekstrim masih bisa bertahan setahun lagi. Sedangkan sandal, saya belum punya. Butuh setengah jam untuk menentukan sikap pilih mana, harga yang menempel di alas kaki sama; Rp.400.000, perbedaannya adalah besaran diskon.

Sebelum mendapatkan sepatu sandal ini, saya mengelilingi beberapa toko sepatu yang berada di mall. Semua menggelar diskon, tapi harga diskon tetap di atas anggaran. Ada satu sepatu dari Air**** yang saya beli tahun lalu tapi sudah terlanjur ilfil, lemnya cepat lepas jika digunakan untuk kegiatan ekstrim. Ada juga yang harganya standar kualitas lumayan bagus, tapi voucher belanja saya tidak berlaku :mrgreen: .

Cuci gudang akhir tahun bertujuan meningkatkan penjualan, dibalik itu ada udang dibalik batu. Konsumen perlu menelisik kenapa satu barang dijual dengan embel-embel cuci gudang dan diskon.

  • Menjual barang tidak laku dengan memangkas laba.
  • Menjual barang cacat produksi.
  • Benar-benar cuci gudang, toko mau tutup permanen.
  • Benar-benar cuci gudang, tahun depan gudang akan diisi barang baru.

Secara psikologis, orang Indonesia suka banget dengan kata diskon dan kata-kata “beli 1 dapat 50” (termasuk saya). Padahal belum tentu harga setelah diskon menjadi lebih murah dari harga sehari-hari. Ada yang menaikkan harga terlebih dahulu sebelum diberi diskon, termasuk label “beli 1 dapat 2” seperti yang saya lihat di pasar daring dan mall kemarin. Yang penting kita harus hati-hati saat akan membeli barang diskonan.

Sepatu sandal yang saya beli tersedia di Amazon, sebelumnya US$24.99, 2 hari berikutnya turun harga jadi US$19.99. Menurut Google, US$19.99 senilai dengan IDR291.000. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim dari Amazon ke Indonesia πŸ˜› . Label harga di toko sepatu kemarin IDR399.000 (bulatkan jadi 400.000). Anggap saja ongkos kirim IDR108.000 dari Cina. Sepatu sandal ini memang dibuat di Cina.

Barang yang saya beli cacat produksi, seharusnya (siapa sih yang mengharuskan? πŸ™ ) tidak dijual atau harganya kurang dari separuh harga jual kualitas standar. Nyatanya harga setelah diskon masih terasa mahal, sedikit di bawah Amazon. Beruntung (sobat qismin ini) disokong voucher belanja πŸ™‚ .

Saya agak menyesal membelinya, tapi mungkin akan menyesal bila tidak membelinya. Tulisan ini memang nggak mutu, hanya sekedar pengingat bila bertemu diskon dan cuci gudang jangan langsung bernafsu ingin beli, hehehe.

Tinggalkan komentar