Harga Obat di Apotek Swalayan Lebih Mahal

Tiba-tiba saya terserang batuk di malam hari dan tidak memiliki persediaan obat. Kok yao saya ingin mencoba membeli obat di tempat yang mengaku sebagai Apotek Swalayan, tepatnya di depan SPBU Semaki (jenengan pirso ingkang kula maksud). Agak penasaran kenapa apotek ini sepi padahal berada di jalur ramai pembeli. Beberapa apotek yang buka di sepanjang jalan ini laku, kecuali satu ini. Namanya cukup terkenal semenjak saya masih kecil sebagai apotek mahal.

Kedua, saya ingin leluasa memilih obat yang saya beli. Dalam bayangan saya tergambar sebuah swalayan khusus obat, dimana kita bawa keranjang untuk membeli kebutuhan kesehatan. Bawa ke kasir dan bayar. Seketika gambaran itu lenyap saat saya sudah berada di dalam swalayan tersebut.

Apotek swalayan.

Ketika sedang melihat-lihat, datanglah seorang wanita menanyakan keperluan saya. Jawaban jujur keluar dari mulut saya, “obat batuk.” Dia lalu mengambilkan satu jenama obat batuk terkenal, ditambah satu obat yang meringankan penderita flu. Lalu dia berkata kepada 3 wanita yang berada di balik kasir, untuk menyiapkan obat yang saya tidak tahu apa jenamanya.

Saya tidak sempat berkeliling melihat jualan apotek swalayan itu, ingin cepat-cepat pulang dan minum obat. Saya sadar, wanita itu mempengaruhi pilihan, tapi saya biarkan. Biar ada yang artikel di blog ini 🙂 , meskipun harus rugi puluhan ribu *jangan ditiru.

Katanya obat batuk.

Ketika di kasir, saya menanyakan obat yang dimasukkan ke dalam plastik klip. Katanya berisi vitamin, diminum jika tidak enak badan. Total yang saya bayarkan adalah Rp.53.500 😥 tapi tetap saya bayar kok. Dalam hati heran, obat sedikit segitu harganya di atas Rp.50.000? Sesampainya di rumah, saya lihat struk pembelian. Ada unsur penipuan di sini.

Obat batuk tertulis benar, sedangkan obat meringankan obat flu ditulis 8 tablet, padahal saya hanya membeli 1 strip isi 4 tablet. Obat di dalam plastik klip? Tidak masuk dalam struk, jumlahnya pun bukan Rp.53.500 melainkan hanya Rp.23.500. Jadi harga obat misterius tersebut Rp.30.000, ha? Kok tidak masuk struk? Uangnya dikorupsi atau menjual ilegal tanpa sepengetahuan perusahaan? Saya tidak tahu.

Struk pembelian.

Baiklah, image apotek tersebut mahal ternyata tidak berubah dari puluhan tahun lalu. Saya sudah buktikan sendiri, mereka bahkan mengelabuhi konsumen. SPG (entah apa jabatannya) menjadi apotek ini seperti “kandang macan”, konsumen tidak berkutik disodori pilihan obat berharga mahal :mrgreen: .

Semoga Allahu Ta’ala menerima amal ibadah, mengampuni dosa, memperlancar urusan dunia dan akhirat, serta mengabulkan do’a saya. Amin.

Tinggalkan komentar