Program Kegiatan Ramadhan yang Berpahala

Ramadhan sebentar lagi, para aktivis masjid sudah mulai menata diri membuka hati mempersiapkan berbagai kegiatan yang menyemarakkan. Kepanitiaan segera dibentuk, masjid yang menampung banyak jamaah sudah menerima pendaftaran relawan. Proposal donasi kegiatan tinggal revisi dan disebarkan, karena setiap kegiatan butuh dana operasional.

Namun tak jarang kegiatan yang diadakan selama Ramadhan nirfaedah hanya buang uang semata, tidak mendatangkan pahala malah meraup dosa. Padahal di bulan suci tersebut seharusnya seorang muslim memperbanyak ibadah. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda yang artinya,

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Buka puasa Ramadhan di Masjid Kampus UGM beberapa tahun lalu.

Ragam kegiatan di bulan Ramadhan

Sungguh rugi seandainya di bulan Ramadhan, seorang muslim mengabaikan panen pahala. Oleh karena itu rencanakanlah kegiatan Ramadhan yang berpotensi mendatangkan pahala, semoga panitia dan relawan juga mendapatkan pahala atas jerih payahnya. Beberapa contoh program kegiatan selama Ramadhan seperti di bawah ini.

Buka puasa

Hidangan buka puasa menjadi yang paling dinanti orang yang berpuasa, sekaligus orang yang memberi hidangannya, karena dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda yang artinya,

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka pahala untuknya seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.”

Pemberi buka puasa juga “berebut” muslim berpuasa yang sekiranya banyak beramal. Tidak heran di masjid-masjid yang tiap harinya penuh shalat jamaah dan pengajian, menjadi favorit orang menyalurkan dana untuk buka puasa. Kenapa demikian? Secara hitungan manusiawi, sang pemberi (donasi) buka puasa ingin mendapatkan banyak pahala seperti yang tercantum pada hadits di atas.

Beberapa masjid kampung di bulan Ramadhan melakukan hal tidak lazim, contohnya di kampung saya sendiri. Muadzin mempercepat qomat daripada hari-hari biasa. Alasannya supaya waktu berbuka lebih lama, tapi hal itu mendzolimi orang yang tinggal jauh dari masjid, karena hanya sempat minum seteguk air putih lalu harus pergi shalat jama’ah ke masjid.

Setelah masuk waktu Maghrib, berbukalah seperlunya. Di daerah dekat kampus negeri DIY, qomat tetap minimal 10 menit, memberi kesempatan kepada jamaah menikmati nasi bungkus dan antre wudhu. Berapa banyak orang yang masbuk shalat jamaah Maghrib jika setelah adzan, 1 menit kemudian qomat, ratusan orang.

Belajar memperbaiki bacaan al-Qur’an

Ramadhan adalah bulan al-Qur’an, diturunkan pada bulan yang mulia seperti yang tercantum dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 185. Di bulan tersebut malaikat Jibril mengajarkan al-Qur’an kepada Rasulullah.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, beliau menceritakan, “Adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan sosok yang paling dermawan. Terlebih lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpainya untuk mengajarinya Al-Quran. Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadhan untuk mengajarinya Al-Quran. Maka ketika Jibril menjumpainya, beliau adalah orang yang paling dermawan, lebih dari angin yang bertiup.”

Orang yang bisa membaca al-Qur’an sesuai tajwid semakin langka, panitia seyogyanya mencari guru jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Belajar memperbaiki bacaan juga biasa disebut dengan tahsin, kebanyakan warga kita bisa mengucapkan al-Qur’an dari translasi ke huruf latin sehingga banyak pengucapannya yang tidak sesuai kaidah membaca al-Qur’an. Inilah yang harus diperbaiki supaya tidak salah sampai mati.

Sebenarnya kesalahan utama ada di pendidikan dasar di taman pendidikan al-Qur’an atau sejenis. Pengajarnya bukan pilihan yang memiliki kemampuan, tapi karena adanya hanya itu. Sedikitnya SDM yang fasih membaca al-Qur’an masih menjadi PR bagi para da’i dan tanggung jawab semua kaum muslimin.

Program ini tidak menarjetkan irama yang bagus, suara merdu, atau bisa lancar baca al-Qur’an dalam 10 menit. Tarjet program adalah bisa membaca dengan tartil, jelas, benar, dan fasih.

I’tikaf

Utamanya dilakukan di 10 hari terakhir Ramadhan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah. Pada 10 hari terakhir Ramadhan, kaum muslimin berbondong-bondong menuju masjid untuk melakukan i’tikaf. Mirisnya masih banyak yang salah kaprah dengan i’tikaf, terutama di daerah yang jauh dari pusat menuntut ilmu. Mereka tidak paham i’tikaf, masjid dikunci dan memarahi orang yang akan i’tikaf. Ada juga yang mengganti i’tikaf dengan pesantren Ramadhan, 10 hari terakhir diisi pengajian tanpa ada kesempatan peserta untuk menyendiri dengan Allahu Ta’ala. Kesalahan-kesalahan ini hendaknya diperbaiki, jangan malu untuk belajar agama kembali karena malu bertanya sesat di jalan.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama 20 hari.” (HR. Bukhari no. 2044)

Panitia cukup ribet, tenaga dan pikiran terkuras dengan program i’tikaf. Selain mempersiapkan tempat bermalam, keamanan, juga mempersiapkan makan sahur. Perkiraan peserta kadang meleset sehingga menyebabkan paket makan sahur tersisa. Namun ada kalanya jama’ah membludak sehingga kekurangan paket makan sahur, yang biasanya terjadi pada malam 27 Ramadhan.

Di malam i’tikaf, sekitar pukul 02.30 WIB diadakan qiyamul lail (shalat tarawih) dengan bacaan surat pilihan lebih panjang daripada qiyamul lail sesudah Isya’. Bila imam sudah melakukan qiyamul lail sebelumnya, maka tidak ada shalat witir berjama’ah karena tidak ada 2 witir dalam 1 malam.

Antrean ke toilet sebelum Shubuh juga sebaiknya menjadi pertimbangan supaya muadzin tidak cepat mengumandangkan qomat. Orang yang sering melakukan i’tikaf tiap tahun biasanya sudah hafal dengan masjid yang jarak adzan dan qomatnya agak lama. Itulah masjid yang ideal menjadi tempat i’tikaf.

Penutup

Itulah 3 program kegiatan utama selama Ramadhan, masih banyak kegiatan lain yang tidak mengurangi kekhusyukan beribadah selama bulan puasa, seperti pengajian sebelum buka puasa serta kultum sebelum Tarawih dan sesudah Shubuh. Sedangkan kegiatan di siang hari tidak dianjurkan karena minim peserta, kebanyakan orang-orang masih lemas dan ngantuk, serta menyimpan tenaga untuk menghidupkan malam Ramadhan.

 

Petikan terjemah hadits disalin dari rumaysho.com dan muslim.or.id.

Tinggalkan komentar