Categories
Gawai

Beli Mifi XL Go Segel tapi Kartu sudah Hangus

Niatan beli mobile wifi (mifi) sudah muncul sejak awal tahun tapi tidak segera terealisasi. Awalnya ingin membeli ZTE MF90 bekas Bolt, saya tunda-tunda membelinya malah harganya semakin naik. Hal tersebut disebabkan permintaan tinggi sedangkan barang semakin menipis. Mifi tersebut tidak berbentuk tapi memiliki banyak keunggulan, kekurangannya hanyalah tanpa layar dan kecepatannya category 3; dimana sekarang sudah mulai tertinggal.

Paket logistik Yes.

Saya dilematis apakah masih beli MF90? Saya lalu mulai mencari alternatif dengan jenama lain seperti Huawei, Prolink, maupun Tenda. Hanya 3 jenama tersebut yang saya ketahui ada di pasaran, Advan? Tidak masuk radar, saya mencari mifi yang mencakup semua frekuensi. Dan akhirnya pilihan jatuh ke jenama Huawei, yang ternyata banyak produk dan model yang beredar.

Dua pasar daring Bukalapak dan Tokopedia jadi pilihan berburu mifi. Sempat melirik MF90 di Shopee tapi karena penjualnya hanya pamer foto tanpa mau membalas chat, maka Shopee dicoret dari daftar pasar, Shopee sepertinya kurang begitu sebagai pasar barang elektronik.

Setelah dibungkus kertas manila, masih ada bungkusan lagi.

Satu ketika saya menemukan penjualan Huawei E5573 bekas dengan harga Rp250.000. Cukup murah tapi karena masih sibuk hanya saya masukkan dalam keranjang. Beberapa hari kemudian barang tersebut sudah laku! Demikian juga dengan penjual lainnya, kali ini lebih bagus dan memiliki slot antena. Waktu itu saya memprioritaskan membeli barang lain, sehingga mifi saya tunda sepekan lah. Eh, belum sampai waktunya ternyata barang sudah laku 🙁 .

Tak ingin mengalami nasib yang sama setiap waktu, ketika menemukan barang sejenis akan saya beli, tidak hanya ditumpuk dalam keranjang. Keranjang belanja pasar daring saya sudah mencapai 50an lebih, hanya segelintir yang dibarter dengan uang 😛 .

Masih dibungkus lagi dengan bubble wrap.

Kenapa memilih Huawei E5573? Alasannya simpel, produk itu membanjiri pasar akibat dijual sepaket oleh Telkomsel dan XL. Kedua, sudah mengadopsi kecepatan kategori 4 dengan download hingga 150 Mbps. Ketiga, mencakup semua frekuensi 4G dari 850, 900, 1800, 2100, sampai 2300 MHz. Kelemahannya? Baterai hanya 1500 mAh, dan ada model yang tidak memiliki slot antena.

Alasan Huawei (di Indonesia oleh PT. Panggung Elektrik Citrabuana) mengeluarkan model dengan nama sama tapi beda abjad belakang, kurang bisa saya pahami. Contohnya adalah produk yang akhirnya saya beli, model E5573Cs-609 yang ternyata ada yang memiliki slot antena, ada pula yang hanya mencakup frekuensi 2300 MHz. Cukup membingungkan.

Dua pekan lalu menemukan penjual XL Go E5573Cs lock yang membandrol harga Rp300.000 masih segel. Tanpa pikir panjang saya membelinya! Beresiko tinggi seandainya tidak bisa di-unlock, saya hanya bisa memakainya untuk jaringan XL dan Axis :mrgreen: . Penjual juga menyatakan bahwa kartunya sudah mati, jadi meskipun barangnya masih segel tapi starterpack simcard bawaan sudah tidak bisa digunakan lagi.

XL Go yang saya beli.

Inilah XL Go yang saya beli, setelah mencoba kartu bawaan memang tidak terdeteksi jaringan. Saya beli starterpack kartu baru, alhamdulillah bisa jalan. Saya lebih suka beli kartu baru karena pulsa saya pernah dicuri Axis, bisa baca tulisannya di tautan ini.

Apakah XL Go Huawei E5573Cs-609 ini bisa di-unlock? Belum tahu karena firmware yang digunakan adalah 21.326.62.00.66 yang dikenal “susah” di-unlock 😛 .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *