Menyapa Lagi Saat Wabah Covid-19

Setelah sekian lama, baru sempat mengisi lagi blog ini saat wabah Covid-19 sudah berkeliling hampir ke semua negara. Saya hanya ingin berbagi kisah saat wabah mulai populer di tempat saya tinggal, Yogyakarta (selanjutnya ditulis Jogja).

Saya sempat menghadiri acara warganet Jogja yang diprakarsai Kementerian Kesehatan RI pada akhir Februari 2020 lalu. Di situ saya tahu asal muasal virus covid-19, masih sebatas menjadi pengetahuan baru bagi saya. Namun pada 15 Maret 2020, keadaan berubah, beberapa masjid mulai waspada dengan menggulung karpet dan meningkatkan kebersihan. Hari itu adalah tatap muka terakhir dengan pengajar saya, malam hari beliau menghimbau agar esok pagi saat pelajaran tidak berjabat tangan dulu. Eh, pada hari H diralat bahwa pelajaran libur hingga waktu yang belum ditentukan 🙂 . Setelah 2 pekan barulah kami belajar kembali menggunakan Zoom.

covid-19 menakutkan warga
Waspada coronavirus.

17 Maret 2020 saya menyusuri kota Jogja pukul 20.00 WiB. Jalanan sepi seperti lebaran. Kendaraan yang lewat tak sampai 10 buah, toko-toko tutup sejak sore, demikian pula restoran dan warung makan. Angkringan masih buka tapi tidak seramai biasanya.

Keadaan tidak berubah hingga April 2020, tetap sepi bahkan tambah menjadi-jadi. Beberapa kampung termasuk RT rumah saya, memblokade jalan sehingga mobilitas warga terganggu. Ada yang menerapkan jam malam plus penjaga yang bertugas menyemprotkan desinfektan atau hand sanitizer kepada orang yang masuk kampung. Hal ini menimbulkan stress tersendiri, karena ada yang bereaksi terlalu berlebihan. Waspada terhadap covid-19 perlu, tapi tidak perlu membuat kebijakan yang justru merugikan warganya sendiri. Abai terhadap wabah ini juga salah, kalau 1 terjangkit bisa sekampung tertular.

Mei 2020 umat muslim dunia memasuki bulan Ramadhan. Umat terpaksa melaksanakan shalat 5 waktu dan qiyam Ramadhan shalat tarawih di rumah atau di kos, kecuali yang ndableg nekat shalat di mushalla dan masjid.

Lebaran dilalui dengan keterbatasan. Untuk pertama kali sepanjang hidup, idulfitri dirayakan di rumah saja. Ketupat opor tetap ada, tapi shalat id, berkunjung ke tetangga dan kerabat urung dilakukan karena wabah ini. Yang lebih merana, jalan kampung ditutup 24 jam dan larangan bertamu dari luar kampung selama sepekan 🙁 .

Pelonggaran blokade jalan

Alhamdulillah 1 Juni 2020 blokade jalan kampung dibuka, tidak ada penjagaan lagi. Surat edaran menteri agama cepat direspon sehingga 4 Juni 2020 masjid bisa digunakan kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan covid-19. Warga kampung menyambut gembira, ditambah beberapa hari lalu keluar surat edaran dinas kesehatan setempat yang menyatakan kampung masuk zona hijau covid-19.

Saat artikel ini diposting, situasi berangsut normal. Jalan-jalan utama Jogja sudah kembali macet, meskipun Pemda memperpanjang masa tanggap darurat hingga akhir Juli 2020 (bisa diperpanjang lagi).

bersambung..

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *