Ada-ada Saja, Menumpang Truk Dari Lombok ke Jogja

Saya memilih untuk makan bakso, setelah bersepeda pagi. Bukan niat dari awal, waktu perjalanan pulang ketemu pedagang bakso di depan rumahnya.  Akhirnya mampir, meskipun dia lagi libur jualan karena anaknya baru sepekan lahir. Libur jualan tak berarti dia tidak membuat bakso, dia menyediakan bakso sebagai suguhan para tamu yang datang menengok anak dan ibunya.

truk rusak.
Sumber gambar: Pixabay.

Asyik menunggu kuah bakso matang, datanglah pemuda yang mengaku baru keterima kuliah di universitas milik pemerintah. Sebut saja namanya Sanjaya, dia berasal dari Lombok Barat. Kami mengobrol ngalor ngidul sambil ngemil panganan yang disajikan. Dia berkisah perjalanannya dari kampung halaman sampai Jogja, setelah Idulfitri 2020. Padahal keadaan masih belum aman dari wabah covid-19.

Pemuda berambut merah ini mengaku menumpang truk dari kampung sampai Surabaya dengan tarif Rp.550.000. Setiap sampai di pelabuhan pemeriksaan cukup ketat, dengan pengecekan suhu tubuh tapi tidak sampai memeriksa surat bebas Covid-19. Supir selalu ditanya petugas, “Siapa ini?” Supir selalu menjawab,

“Ini kernet saya.”

Selama perjalanan dia menyandang status kernet palsu 😉 , padahal cuma duduk di sebelah supir. Perjalanan aman sampai Surabaya. Di sinilah dia tertipu Rp.500.000. Menurutnya, dia ditawari naik mobil travel atau carteran menuju Jogja. Nyatanya mobil yang ditunggu tak kunjung datang. Pemuda ini patut diancungi jempol, dia masih bisa mendapat mobil lain dari Surabaya ke Jogja dengan membayar Rp.550.000. Katanya saat itu belum ada transportasi umum Surabaya – Jogja, sehingga dia naik angkutan gelap.

Para penumpang di‘brief” supir angkutan gelap, agar selalu mengikuti petunjuknya bila ingin sampai tujuan. Di perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah, dijumpai beberapa pos pemeriksaan. Penumpang harus kompak seandainya ditanya petugas. Beruntung, saat itu yang ditanya hanya supir. Pertanyaan mendasar adalah kemana tujuan mereka. Supir yang mengenal medan menjawab daerah terdekat setelah pos pemeriksaan 🙂 . Mobil inipun bisa masuk Jogja dengan selamat. Setahu saya, perbatasan Jawa Tengah – DI Yogyakarta ada petugas yang memantau kendaraan melintasi perbatasan, tapi tidak ada pemeriksaan.

Saya dan pedagang bakso mendengar ini hanya menyeringai saja, ingat dengan pepatah “kalau bisa sulit, kenapa harus dipermudah.” Saya tidak menyalahkannya 100% karena tidak tahu situasi lapangan saat itu. Kemungkinan besar dia paranoid dengan tes rapid :mrgreen: . Beberapa maskapai penerbangan sudah beroperasi, untuk Lombok – Jogja masih dilayani 1 grup maskapai. Jika dihitung-hitung jatuhnya lebih murah naik pesawat (saat ini ada potongan harga), daripada berhari-hari naik jalur darat. Kecuali, biaya tes rapid di kampung halamannya mencapai jutaan rupiah sekali tes.

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *