Menyemarakkan Temu Inklusi 3 bersama Program Peduli

Desa Plembutan Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul DI Yogyakarta didapuk menjadi tuan rumah Temu Inklusi #3. Wakil Gubernur DI Yogyakarta KGPAA Paku Alam X berkenan memberikan sambutan di hari kedua pelaksanaan, pada acara yang berlangsung 22-25 Oktober 2018. Temu Inklusi merupakan ruang berbagi inovasi-inovasi terbaru gerakan sosial difabel di Indonesia (solider.id, 2018). Read More

Diskusi Publik Sosialisasi Redesain USO

Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) Kemenkominfo mengadakan diskusi publik pada hari Kamis 23 November 2017 di Ballroom Pakoe Boewono Hotel Pandanaran Yogyakarta. Sebagai narasumber adalah Dhia Anugrah Febriansa, Direktur Penyedia Infrastruktur BP3TI, anggota komisi I DPR RI H. Sukamta, Ph.D., dosen Teknologi Informasi M Idham Ananta Timur, M.Kom.

Sekitar 150 peserta menghadiri acara yang diiringi hujan yang mengguyur Kota Yogyakarta sejak pagi. Ketiga narasumber menyampaikan materi dengan judul Internet untuk Distribusi Kesejahteraan, Generasi Milenial dan Internet, serta Internet dan Pengembangan Kreativitas.
Yang menarik disimak adalah pemaparan Dhia yang menampilkan data Internet di wilayah USO (Universal Service Obigation). Pada Agustus 2016 akses internet njomplang pada siang dan malam hari. Namun semenjak Januari 2017 pemakaian pada malam hari menyamai pemakaian internet pada siang hari.
Tempat pelayanan masyarakat di beberapa daerah yang akses internetnya masih jarang dan mahal (beberapa menggunakan satelit), akses internet sengaja tidak dimatikan usai jam kerja. Di situlah warga menggunakan akses internet gratis, apa saja dibuka. Dhia mengemukakan, perlunya edukasi bijak menggunaan internet, bukan untuk membuka situs yang dilarang dan merusak moral.

Peran Blogger dalam Gema Cermat

Polusi udara dan debu menjadi penyebab gangguan pernafasan, untuk mengusir gangguan tersebut saya hanya meningkatkan gizi dan banyak istirahat. Melihat keadaan saya beringus, kerabat selalu menyarankan untuk minum obat dengan antibiotik. Saran itu tak pernah saya indahkan karena tanpa dasar yang kuat, dia juga bukan tenaga kesehatan. Obat antibiotik hanya saya minum dengan resep dokter Puskesmas atau Rumah Sakit Umum Pemerintah.

Alhamdulillah saya berkesempatan menimba sedikit ilmu menggunakan obat, yang diadakan Kementrian kesehatan RI dalam acara “Temu Blogger Kesehatan” bertajuk “Cermat Menggunakan Obat”, pada Selasa 21 November 2017 di Yogyakarta. Cermat menggunakan obat merupakan bagian dari kampanye Gema Cermat yang akan dijelaskan lebih lanjut. Dengan mengikuti acara ini, saya berharap ilmu dapat diterapkan pada pribadi, mentransferkannya pada saudara, kerabat, dan masyarakat.

Yel-yel Slogan
Dua Yel-yel untuk membangkitkan semangat peserta yaitu:

Pagi pagi pagi, luar biasa;
Salam sehat, sehat Indonesia.

Sebelum mulai acara, peserta Temu Blogger melakukan cek kesehatan meliputi cek tekanan darah, kolesterol, dan lingkar perut. Mayoritas blogger memiliki tekanan darah normal, tidak demikian dengan pengecekan kedua dan ketiga. Orang Jogja terutama yang tinggal di kos atau asrama sangat suka gorengan, penyebab kolesterol meninggi. Petugas kesehatan menyarankan untuk mengurangi konsumsi makanan yang digoreng.

Selama 90 menit empat pembicara berkompeten di bidang kesehatan memberikan pemaparan dipandu oleh Busroni, S.IP; Kabag Opini Publik Produksi Komunikasi dan Peliputan Sekretariat Kemenkes RI.

Upaya dan Kebijakan Pemerintah DIY

Adakalanya penggunaan obat pada masyarakat tidak sesuai harapan, yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan informasi tentang obat. Selain itu kepatuhan pasien dalam dosis dan durasi masih rendah sehingga efek pengobatan tidak maksimal. Persepsi obat generik berharga murah sehingga tidak manjur, dan pembelian antibiotik secara bebas tanpa resep dokter, yang memicu resistensi bakteri.
Pemaparan Kabid Sumber Daya Kesehatan Dinkes DIY, Dra Hardiyah Juliani, M.Kes. mengingatkan saya pada masa lalu yang berpikiran serupa. Persepsi itu disebarkan orang dekat yang tidak bersumber dari kebenaran.
Penggunaan obat bebas (Over The Counter) tanpa pengetahuan dan informasi memadai dapat menyebabkan masalah kesehatan baru, seperti over dosis, durasi tidak tepat, efek samping, interaksi obat atau penyalahgunaan obat. Maksud durasi tidak tepat adalah pemakaian tidak sesuai waktu (bisa kurang atau lebih). Misalnya, obat 2 kali sehari seharusnya dosis pemakaian tiap 12 jam. Obat 3 kali sehari seharusnya dosis pemakaian tiap 8 jam.
Dengan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) yang dituangkan dalam SK Menteri Kesehatan RI nomor HK.02.02/MENKES/427/2015, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman serta kemandirian dan perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan obat rasional.
Gema Cermat yang telah dilakukan di DIY adalah advokasi, sosialisasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan SDM apoteker sebagai Agent of Change.

Gema Cermat di Kota Yogyakarta

Untuk menggalakkan Gema Cermat, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memiliki program Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) yang dapat dijabarkan dengan obat didapatkan dimana, bagaimana cara penggunaannya, cara menyimpan, dan cara membuang obat.

Penjelasan Dra. Arrosianti Zahrul Falasifah, Apt.; Kasi Farmasi, Alkes dan Makanan Minuman Dinkes Kota Yogyakarta cukup menarik, media informasi Gema Cermat pada masyarakat menggunakan leaflet dan stiker yang telah disediakan Kemenkes RI, selain sosialisasi langsung kepada masyarakat kota.

Dinkes Kota Yogyakarta juga pernah membuat iklan layanan masyarakat yang ditayangkan di televisi Puskesmas Kota. Setelah evaluasi ternyata media ini kurang efektif karena volume televisi di Puskesmas senyap, padahal banyak dialog di dalamnya. Dibuatkan iklan layanan lebih mengedepankan visual, yang bisa dimengerti orang yang menonton tanpa mendengarkan isi iklan. Cara terakhir diterapkan hingga sekarang, pengunjung puskesmas mulai tertarik dan memahami tujuan iklan Gema Cermat.
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
Berdasarkan Instruksi Presiden RI nomor 1 tahun 2017, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Germas bertujuan agar kesehatan terjaga, lingkungan bersih, produktif, dan biaya berobat berkurang. Untuk mewujudkannya dengan upaya peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, serta peningkatan edukasi hidup sehat.

Hal tersebut diungkapkan Kabag Hubungan Media dan Lembaga Kemenkes, Indra Rizon, S.K.M., M.Kes. di hadapan para blogger. Pada tahun 2017 ini pemerintah memfokuskan pada 3 kegiatan yaitu peningkatan aktivitas fisik, konsumsi sayur dan buah, serta memeriksa kesehatan setiap 6 bulan sekali.

Indra juga menambahkan pemaparan Hadijah tentang Gema Cermat, bahwa Gema Cermat sebagai upaya bersama pemerintah dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan dalam rangka mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman dan keterampilan masyarakat menggunakan obat secara tepat dan benar.

Antibiotik
Pembicara terakhir adalah Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kemenkes RI, Mariyatul Qibtiyah Mariyatul Qibtiyah, S.Si, Apt, SpFRS. Materi yang disampaikan kebetulan berkaitan dengan cerita saya di atas, yaitu “Ada Apa dengan Antibiotik”.

Sebenarnya Antibiotik adalah obat untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi, dan tidak bisa mematikan virus atau jamur. Biotik adalah nama lain dari bakteri.

Di dalam tubuh manusia terdapat bakteri baik dan jahat. Bakteri baik antara lain mengubah makanan menjadi zat gizi, membuat vitamin B dan K, menjaga usus agar sehat, buang air besar menjadi lancar, dan melindungi tubuh dari bakeri jahat. Sedangkan bakteri jahat hanya sedikit yang menyebabkan TBC, disentri, dan tipes.

Antibiotik tidak pandang bulu membunuh bakteri, yang jahat maupun baik akan mati. Efek itulah yang menyebabkan pembatasan pemberian antibiotik, karena jika diberikan serampangan bakteri baik ikut mati. Antibiotik memiliki efek samping yaitu toksisitas dengan gangguan hati dan ginjal,  jika berinteraksi dengan obat lain dapat mempengaruhi atau dipengaruhi obat tersebut, gangguan kehamilan atau janin, dan yang paling berbahaya adalah timbulnya resistensi terhadap antibiotik.

Cara bijak dalam penggunaan antibiotik adalah dengan pemakaian hanya untuk infeksi bakteri, sedangkan kita sebagai masyarakat dapat berperan dengan 3T yaitu:
1. Tidak membeli antibiotik tanpa resep.
2. Tidak menyimpan antibiotik.
3. Tidak memberikan antibiotik sisa kepada orang lain.

Cermat Menggunakan Obat
Agar tidak menyesal di kemudian hari, kita harus berhati-hati dengan obat yang didapatkan dengan 5 “o”. yaitu:
1. Obat ini apa nama dan kandungannya?
2. Obat ini apa khasiatnya?
3. Obati ini berapa dosisnya?
4. Obat ini bagaimanan penggunaannya?
5. Obat ini apa efek sampingnya?

Pertanyaan tersebut bisa kita tahu jawabannya dengan membaca pada kemasan obat, atau bertanya kepada dokter dan apoteker yang memberikan obat tersebut.

Cerdas Menggunakan Obat
Lalu bagaimana dengan kampanye cerdas menggunakan obat? Ada 5 cara cerdas menggunakan obat, antara lain:

1. Cara memilih obat
Terbagi menjadi 3 yaitu obat bebas (biasanya ada tanda lingkaran hijau) yang bisa dibeli bebas tanpa resep dokter, obat bebas terbatas (lingkaran biru) bisa dibeli bebas dengan tetap memperhatikan aturan pakai dan peringatan, dan obat keras (lingkaran merah dengan huruf K) yang diperoleh harus dengan resep dokter.

Perhatikan juga kandungan zat berkhasiat, riwayat alergi, kondisi hamil atau berencana hamil, kondisi menyusui, HET obat, bentuk sediaan, dan kondisi sedang menggunakan obat.

2. Cara mendapatkan obat
Obat bebas dan bebas terbatas dapat dibeli di toko obat dan apotek sedangkan obat keras didapatkan di apotek dengan resep dokter.

3. Cara menggunakan obat
Baca aturan pakai sebelum mengkonsumsi, gunakan sesuai aturan. obat bebas dan bebas terbatas tidak digunakan terus menerus, jika sakit berlanjut hubungi dokter. Hentikan pengobatan jika timbul efek yang tidak diinginkan dan segera konsultasikan dengan pelayan kesehatan. Tidak menggunakan obat orang lain meskipun gejala sakit sama, dan tanyakan pada apoteker untuk mendapatkan informasi obat.

4. Cara menyimpan obat di rumah
Tidak melepas etiket wadah obat karena mencantumkan informasi penting. Ikuti aturan penyimpanan pada kemasan, letakkan obat dari jangkauan anak. Simpan dalam kemasan asli dan tertutup rapat. Jangan simpan dalam mobil dalam jangka waktu lama karena suhu tidak stabil merusak obat. Perhatikan tanda kerusakan seperti berubah warna dan bau.

Penyimpanan obat tertentu secara khusus meliputi: Tablet dan kapsul tidak disimpan di tempat panas atau lembab, obat sirup tidak disimpan dalam lemari pendingin. Obat ovula dan suppositoria disimpan dalam lemari pendingin agar tidak meleleh pada suhu ruangan. Obat bentuk spray tidak disimpan pada suhu tinggi karena bisa meledak. Insulin yang belum digunakan disimpan dalam lemari pendingin, setelah digunakan simpan di suhu ruangan.

5. Cara membuang obat
Pisahkan isi obat dari kemasan, lepaskan etiket dan tutup dari wadah. Buang isi obat sirup ke pembuangan air atau kakus setelah diencerkan. Hancurkan botolnya dan buang ke tempat sampah. Gunting tube salep dan pisahkan tutupnya sebelum dibuang. Buang jarum insulin setelah dirusak dan dalam keadaan tutup terpasang kembali.

Indra Rizon, S.K.M., M.Kes. mewakili Ka Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI yang berhalangan hadir mengharapkan para blogger dapat memviralkan dan menginformasikan tentang kesehatan. Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan DIY dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dra Hardiyah Juliani, M.Kes. berharap sosisalisasi penggunaan obat yang bernar kepada masyarakat dapat tercapai melalui teman blogger.

Ikuti kampanye Gema Cermat di Twitter dan Instagram @gemacermat.
Sebagian gambar kampanye Cerdas Menggunakan Obat dipublikasikan di https://www.facebook.com/kanvaskalbu/posts/1854806567881383

Hitztage Axis dan Yonder Music Siap Menyapa Yogyakarta

Nanti malam, Jum’at 10 November 2017 akan digelar konser bertajuk Hitztage di GOR Ki Bagoes Hadikoesoemo Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang km 14,4 Yogyakarta. Acara yang digelar PT. XL Axiata, Tbk melalui jenama Axis bekerjasama dengan Yonder Music akan menghadirkan band indie Float, Dialog Dini Hari, dan Danilla.

Foto bersama Axis -Yonder Music.

Konferensi pers di Don Kaliber Jalan Kaliurang km 12 Yogyakarta siang tadi dihadiri GM Sales Operation XL Axiata area Yogyakarta dan Jateng Arif Farhan Budianto dan Vice President Yonder Music Asia Tenggara Jake Denney. “Konser Axis Yonder Hitztage dapat menjadi salah satu tempat memperkenalkan produk dan kualitas Axis, serta bentuk apresiasi kepada loyalitas pelanggan.” Demikian ungkap Arif Farhan Budianto.

Seperti diketahui, pelanggan Axis di area Yogyakarta dan Jateng dalam kurun waktu dua tahun ini meningkat pesat hampir setara dengan induknya; XL, dengan layanan paket data yang hitz yaitu Rabu Rawit.
Konferensi pers kekeluargaan.

Untuk menyaksikan penampilan ini tidak dipungut biaya alias gratis dengan syarat; membeli kartu perdana Axis dan mengunduh aplikasi Yonder music. Jangan lupa untuk menukarkannya dengan tiket di Swaragama FM atau iRadio Jogja.

Float band.

Hujan deras dan mati lampu menemati konferensi pers siang tadi. Float yang sedianya memberikan pernyataan dibatalkan karena keterbatasan waktu, sebagai gantinya sesi foto bersama personil Float sebelum berangkat untuk cek suara di GOR UII.

Yogyakarta Menjadi Tuan Rumah Lomba ISOPLUS Beach Run dan City Run 2017

Yogyakarta terpilih menjadi tempat pertama seri lomba lari ISOPLUS Beachrun dan cityrun 2017. Dengan keindahan pantainya yang luar biasa menarik Isoplus menggelar lomba lari ini. Hal tersebut diungkapkan Sasongko Hadiyanto, Group Head of Marketing Food & Beverages PT. Wings Surya pada press conference Isoplus City & Beach Run yang akan dilaksanakan Selasa (19/09/2017) di Dixie Restaurant, Jalan Gejayan 40B Yogyakarta.

Read More