Akhirnya Kesampaian Nonton Star Wars: Rogue One [2016]

Star Wars: Rogue One adalah salah satu film yang saya tunggu-tunggu nonton di bioskop. Akhirnya kesampaian juga pada hari Sabtu, 24 Desember 2016 di Cinemaxx Theater, Lippo Plaza Yogyakarta. Hari itu juga merupakan pertama kalinya saya nonton di Cinemaxx. Ajakan nonton bareng dipersembahkan oleh Mr. Aladin dan MybookShow, etapi saya registrasi ulang di Mybookshow.

Email yang kuterima menyebutkan film akan diputar jam 12.45 WIB, daripada gabut liburan aku datang jam 10.50 WIB dan langsung menuju Cinemaxx di lantai P2. Clingak-clinguk di sekitar loket tidak ada siapapun jua yang kukenal. Jam 11.05 WIB aku naik 2 eskalator lagi, di situ juga terdapat loket theater.. di lorong yang sempit kulihat Bagus Gowes duduk menunggu. Ternyata registrasi ulang belum dibuka dan showtime Rogue One diundur menjadi jam 14.10 WIB 😢.

Setelah registrasi ulang dan memilih nomor kursi, aku dan Bagus turun lagi ke bawah untuk shalat dan makan siang. Lippo Plaza memang membingungkan dalam penulisan lantai, bila mau langsung ke Cinemaxx mendingan naik lift ke P3, tinggal naik 1 eskalator lagi daripada turun ke P2.
A photo posted by Bambang (@kanvaskalbu) on

Star Wars: Rogue One

Spoiler: Rogue One adalah nama pesawat kargo yang digunakan pemeran utama film ini untuk mencuri rancang bangun (blue print) kelemahan Death Star di pusat data kekaisaran yang berada di Planet Scarif. Tema film ini adalah pencurian rancang bangun Death Star oleh kaum pemberontak.

Star Wars: Rogue One adalah spin off dari Saga film Star Wars, posisi film ini berada sebelum Star Wars Episode 1V: A New Hope [1977]. Di akhir film, data tersebut berhasil dikirim dan sampai ke Putri Leia meskipun dikejar-kejar oleh tentara kekaisaran hingga Death Vader.

Semua tokoh utama film ini tewas, setelah Planet Scarif diluluh-lantakkan Death Star. Mereka berkorban demi mendapatkan blue print Death Star, tapi di film Saga Star Wars nama-nama mereka tidak disebut sebagai pahlawan 😞.

Seperti biasa, efek film-film Star Wars memukau saya. Spesial efek mereka sanggup memanjakan mata dan terlihat menyatu dengan gambar lain. Tapi saya tidak bisa menghafal nama planet dan pesawat yang ada di Rogue One 😀.

Akting para pemeran Rogue One bagus, Donnie Yen yang berperan sebagai Chirrut Îmwe (seperti biksu angkasa) menurut saya yang paling menonjol. Dia memberi pembeda dengan aksi bela diri, satu-satunya di Rogue One, meskipun tidak bisa lepas dari aktingnya di trilogi IP Man. Robot K-2SO yang menemani Cassion Andor dan Jyn Erso cukup menarik perhatian. Meskipun bentuknya jadul, tapi dia serba bisa.
Terlihat menyedihkan ketika tahu semua tokoh utama tewas. Tapi jika ada yang selamat malah terlihat konyol karena di Saga Star Wars tidak satupun tokoh-tokoh tersebut muncul, bahkan namanya pun tak terdengar sama sekali.

Saya cukup puas menonton Star Wars: Rogue One, tidak rugi nonton film ini meski harus duduk 2 jam 13 menit.

Headshot [2016] Film Laga Penuh Darah dan Makian

Beruntung aku dapat kesempatan pre-screening Headshot sebelum resmi diputar 8 Desember 2016 di bioskop Indonesia. Bertempat di Studio 3 Empire XXI Jalan Urip Sumoharjo Yogyakarta, acara diawali dengan talkshow bersama pemeran David Hendrawan dan M. Ichsan Rachmaditta; penata suara.
Tiket, voucher snack, dan t-shirt.
David yang merupakan atlet wushu mengaku adegan paling berkesan adalah saat di kantor polisi, karena harus menggunakan mantel hujan padahal cuaca sebenarnya panas dan harus berakting laga. Sedangkan Ihsan mengaku menata suara tersulit adalah adegan di pantai. Angin pantai dan ombak yang datangnya tidak bisa diprediksi membuat suara pemain saat pengambilan gambar tidak terdengar.

Tentang Film Headshot

Film ini bergenre action. Peringatan bagi yang mau menonton, film ini penuh adegan berdarah-darah dan kata-kata makian kotor. Lebih baik tidak membawa anak belum dewasa menonton Headshot. Film ini juga zero adegan ciuman.
Mau ikut foto bareng, ruangan tidak muat.
Sebelumnya, Headshot sudah berkeliling dari festival ke festival lain. Pemberitaan media menyebutkan setidaknya 13 festival telah menjadi tempat pemutaran Headshot, jadi jalan cerita dan proses pembuatan sudah banyak diberitakan media. Di sepanjang film ini tertera subtitle bahasa Inggris dan Indonesia.

Iko Uwais memang punya gaya atau jurus ciri khas berdasarkan beladiri pencak silat yang digelutinya. Sehingga penonton akan menyaksikan adegan berkelahi Iko selalu begitu. Sama halnya jika menonton film-film Jackie Chan, adegan berkelahinya begitu-begitu saja, karena itu sudah menjadi ciri khas masing-masing.
Ada beberapa adegan kelahi Iko yang mengingatkanku pada adegan di tetralogi (satu tidak dihitung) Bourne; perkelahian cepat. Plot ceritanya pun mirip…. amnesia, cuma si Ishmael lebih cepat sembuh daripada Jason Bourne. Beberapa penonton yang sudah menonton film-film Iko Uwais agak kecewa karena 4L (Lu Lagi Lu Lagi), beberapa pemain The Raid 2 reuni di film ini, menggambarkan masih sedikit aktor laga di perfilman Indonesia. Untuk hal ini aku lagi-lagi beruntung, baru sekali nonton film Iko Uwais hingga tamat 😁. Film itu adalah Star Wars: Force Awakens.

Seperti film-film lainnya, di film Headshot juga dijejali adegan wagu. Kalau tidak wagu, tidak ada yang membuat penonton tertawa. Terlalu terlihat realistis juga bisa mengakibatkan pemain protagonis kalah, film jadi cepat selesai 😁.

Penampilan Chelsea Islan di film ini menjadi pemanis yang menggemaskan, siapa sih pasien yang tidak mau ditaksir dokter secantik dia?
Wawancara PH usai acara nonton bareng.
Pembuatan film dilakukan di Batam dan Jakarta, seperti yang tercantum di akhir kredit film. Headshot dibintangi antara lain Iko Uwais, aktor Singapura Sunny Pang, Chelsea Islan, Julie Estelle, Very Tri Yulisman, David Hendrawan, dan Zack Lee. Pemberitaan Epi Kusnandar bermain di Headshot adalah hoax, aku tidak melihatnya sama sekali di film ini.

Headshot memenangkan Piala Citra 2016 untuk Penata Suara Terbaik, Piala Citra untuk Penata Efek Visual Terbaik.

Batman v Superman Dawn of Justice Ultimate Edition [2016]: Alur Cerita Jadi Mudah Dipahami

Beberapa waktu lalu Batman v Superman Ultimate dirilis untuk dalam bentuk blueray, durasinya tak tanggung-tanggung 03:02:33. Kalau film India dihiasi lagu dan tarian sepanjang film, film BvS Ultimate ini film serius banget, nggak ada ketawanya sama sekali. Sehingga saya butuh waktu 3 pekan menyelesaikan nonton mBvS Ultimate, nggak kuat disuruh 3 jam cuma buat nonton film… apalagi tidak dibayar.
Bila BvS versi bioskop membuat saya bingung dengan alur ceritanya, BvS Ultimate ini lebih runtut dan mudah dipahami. Kecuali mimpi Bruce Wayne yang saya rasa tidak perlu dimasukkan ke dalam film, tak berfaidah…. andaikan dihilangkan tidak merusak alur cerita.

Dari BvS Ultimate, saya dapat mengambil kesimpulan:

Batman punya dua kostum
Kostum pertama adalah kostum kebesaran Batman dalam kegelapan. Logo Batman pun gelap dan besar dengan gambar kelelawar sederhana, malah bisa dikatakan buruk. Kostum ini anti peluru tapi tidak anti pisau. Kostum kedua seperti Robocop hitam, termasuk topeng besi yang matanya memiliki lampu.

Bruce Wayne punya simpanan
Sekitar menit 44:30 Bruce Wayne terbangun dari tidur, terlihat ada seseorang bersamanya. Siapa dia? (Mungkin) Hanya sutradara yang tahu.

Superman tak berkolor di luar
Di film ini saya baru tahu Superman tak lagi memakai kolor di luar celana panjang. Yah… jarang nonton film Superman sih…

Superman tidak memiliki kliwir lagi
Rambut Kliwir di dahi tak terlihat lagi, mungkin sudah dipotong karena mengganggu penglihatan super. Sepertinya kliwir ini sudah menghilang sejak maraknya serial televisi Superman atau Superboy.

Batman juga melakukan pertarungan brutal saat membebaskan Martha Kent. Nggak tahu aliran beladirinya apa.

So, sekali lagi BvS Ultimate ini bisa memberi sedikit pencerahan setelah nonton film standartnya yang membingungkan.

Nonton DVD di Moviebox Gejayan Jogja

Kebetulan aku dapat hadiah nonton di Moviebox Jogja bersama cah NontonYk. Menurut jadwal sih jam 12.30 WIB, tapi molor sampak jam 13.30 WIB, maklum tidak terjadwal seperti di gedung bioskop 🙂 . Hari itu Ahad 14 Agustus 2016, aku bersama 9 orang lainnya nonton film kartun nggak jelas… Wkwkwk, film apa nggak tahu, menurut LSF yang tertera di awal film, lulus sensor tahun 2014. Lawas banget kan?

Update terbaru

Setelah kepoin akun NontonYk, ternyata inilah film yang ditonton… ada komentar?
Posternya kayak gini
Posternya.

Menurut isu yang beredar (((isu))) harusnya 20 orang yang datang nonton bareng, sudah booking tempat yang besar, eee… yang datang cuma 10an orang. Admin NontonYk sebenarnya ingin tukar ruangan yang lebih kecil, tapi tidak boleh karena sudah booking. Aku juga cuma datang sendiri, tidak ada teman yang mau karena ajakan nonton ini mendadak. Iyalah, diumumin malam Ahad dan nontonnya siang hari. Mungkin jika nonton film box office, baru deh pada antre.

Moviebox Gejayan
Dari luar aku sudah merasa kurang nyaman, AC yang sudah tak berbentuk meskipun masih dingin dan cat ruangan yang terlihat kusam. Toiletnya juga hmmm malas cerita wkwkwk. Tidak ada wifi gratis (sama seperti jaringan sinema 21) dan koleksi filmnya lawas. Sepengetahuanku saat berkeliling, tidak ada koleksi film yang bersamaan diputar di bioskop Indonesia.

suasana di Moviebox
Suasana di Moviebox.

Model lantai ruangan nonton seperti bioskop atau teatrikal, makin jauh dari layar posisi makin tinggi. Tempat duduk sofa berdua dengan 6 tingkat. Artinya ada 24 kursi tersedia di ruangan ini.

Filmnya agak ngeblur
Nonton filmnya.

Nonton film di Moviebox sama seperti nonton home theater, tapi lebih enak home theater, kecuali mau uhuk. Layar moviebox masih 4:3, sebenarnya bisa disetting dari proyektor jadi 16:9. Aku jadi tidak nyaman nonton karena sudah terbiasa dengan rasio layar 16:9.. Dari smartphone hingga laptop sudah 16:9, jadi.., intinya kecewa 🙂 .

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Cah Nonton (@nontonyk) on